
TRANS HAPAKAT – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Godfridson ( 17/9/2026) menyebutkan hasil pantauan pada hari Kamis antara pukul 11.00 – 12.00 Wib, Indek Standar Pencemaran Udara ( ISPU) Kabupaten Pulang Pisau, tembus diangka 595 termasuk angka tertinggi selama musim kemarau.
Dikatakan Godfridson angka tersebut menunjukan kualitas udara semakin memburuk dan tembus di level berbahaya. Kualitas udara yang kembali memburuk hasil pantau kualitas udara partikulat halus PM2.5 di kawasan Komplek Perkantoran Kecamatan Kahayan Hilir antara pukul 11.00- 12.00 Wib, terpantau berada di atas 595 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya.
Berdasarkan hasil pemantauan siang ini konsentrasi PM2.5 berada di atas 595 µg/m³. Kondisi tersebut masuk kategori berbahaya, lonjakan kualitas udara tersebut terlihat cukup tajam, jika di banding dengan kondisi beberapa hari sebelumnya, maupun pagi hari tadi yang berada pada angka 300 hasil pantau PM2.5 pada periode pukul 06.54 – 08.00 Wib.
Pemantauan dilakukan menggunakan Environmental Particle Air Monitor (EPAM-5000) pada periode pukul 11.00 hingga 12.00. WIB.
Tingginya konsentrasi PM2.5 tersebut terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah lokasi wilayah Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau.
Paparan partikulat halus dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Keluhan seperti iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk hingga sesak napas dapat meningkat.
Dirinya menghimbau dengan kondisi kualitas udara seperti ini, masyarakat diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika memang harus keluar, gunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Kondisi seperti ini membuat paparan udara di luar ruangan memjadi perhatian serius, saat paparan asap dan partikulat berapa pada tingkat tinggi.
Godfridson juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara semakin memburuk dan sangat berbahaya dan resiko terhadap kesehatan seperti bayi, balita, lansia serta masyarakat yang rentan terhadap asap.
Memburuknya kualitas udara tersebut menjadi perhatian di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung di Kabupaten setempat. Dampak Karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, kondisi kabut asap dan tingginya konsentrasi partikulat manjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi sehingga masyarakat terhindar dari resiko kesehatan. ( Red )



