
TRANS HAPAKAT – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Godfridson ( 12/10/2026) menyebutkan hasil pantauan pada hari Senin antara pukul 07.00 – 08.00 Wib, Indek Standar Pencemaran Udara ( ISPU) Kabupaten Pulang Pisau, tembus diangka 2831 masuk angka tertinggi selama musim kemarau.
Dikatakan Godfridson angka tersebut menunjukan kualitas udara semakin memburuk dan tembus di level sangat berbahaya. Kualitas udara yang kembali memburuk hasil pantau kualitas udara partikulat halus PM2.5 di kawasan Komplek Perkantoran Kecamatan Kahayan Hilir antara pukul 07.00 – 08.00 Wib, terpantau berada di atas 2831 µg/m³ dan masuk kategori sangat berbahaya.
Berdasarkan hasil pemantauan pagi ini konsentrasi PM2.5 berada di atas 2831 µg/m³. Kondisi tersebut masuk kategori sangat berbahaya, lonjakan kualitas udara tersebut terlihat cukup tajam, jika di banding dengan kondisi beberapa hari sebelumnya, maupun kemarin sore bnerdasekan data pembanding angka 300 hasil pantau PM2.5 pada periode pukul 14.30 hingga malam hari.
Pemantauan dilakukan menggunakan Environmental Particle Air Monitor (EPAM-5000) pada periode pukul 07.08 hingga 08.05. WIB.
Tingginya konsentrasi pada Satelit PM2.5 tersebut terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah lokasi wilayah, Kalurahan Pulang Pisau, Kelurahan Kalw, Desa Mataren1, Desa Gohong, Desa Hanjak Maju Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau.

Paparan partikulat halus dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Keluhan seperti iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk hingga sesak napas dapat meningkat.
Dirinya menghimbau dengan kondisi kualitas udara seperti ini, masyarakat diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika memang harus keluar, gunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Kondisi seperti ini membuat paparan udara di luar ruangan memjadi perhatian serius, saat paparan asap dan partikulat berapa pada tingkat tinggi.
Godfridson mengajak masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara semakin memburuk dan sangat berbahaya dan resiko terhadap kesehatan seperti bayi, balita, lansia serta masyarakat yang rentan terhadap bahaya asap.
Memburuknya kualitas udara tersebut menjadi perhatian di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung di Kabupaten setempat. Dampak Karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, kondisi kabut asap dan tingginya konsentrasi partikulat manjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi sehingga masyarakat terhindar dari resiko kesehatan. ( Redaksi )




